Belajar Memaafkan dari Allah dan Anak-anak

Apa reaksi yang sering kita lakukan bila teman, sahabat, atasan, pimpinan, atau siapapun yang meremehkan kita? Sudah pasti akan merasa kesal, dengki, bahkan ada yang dendam berkepanjangan hingga mengucap sumpah serapah. Lalu, apa sesudahnya kita merasa tenang, merasa bebas, dan plong? Ternyata banyak yang masih menyimpan dendam kesumat berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sampai ada yang bertahun-tahun atau seumur hidup tidak mau memaafkan, karena begitu sakit hatinya.

Lalu, apa untungnya buat diri kita? Atau malahan justru sebaliknya, kerugiannya lebih banyak daripada keuntungannya. Hehehe… Nggak balik modal dong🙂

Tahukah Anda bahwa Allah Maha Pemaaf. Jika Allah saja Maha Pemaaf atas kesalahan-kesalahan dan Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-hambanya yang berjumlah trilyunan orang di seluruh dunia ini, mengapa kita sebagai makhluknya yang merasa sakit hati yang bila ditimbang, katanya sakit hatinya sudah berton-ton beratnya, begitu sulitnya memaafkan?

Sederhananya begini….Bukankah semua sifat-sifat Allah adalah baik. Ayo kita coba sebutkan beberapa saja :

  • Maha Pengasih
  • Maha Penyayang
  • Maha Pemelihara
  • Maha Menyejahterakan
  • Maha Memaafkan
  • Maha Pemberi Rezeki
  • Maha Merahmati
  • Maha Sabar
  • dan seterusnya…

Jika disebutkan semua, ada 99 nama Allah (Asma’ul Husna)

Nah, dari yang disebutkan tadi ternyata ada sifat Allah yang Maha Memaafkan dan Maha Sabar. Dari sifat-sifat Allah tersebut, manusia juga memilikinya. Mau bukti… Saya yakin kita pernah mendengar ucapan-ucapan berikut :

“Ayah Bundanya itu sangat menyayangi anak-anaknya ya”

“Ustad Yusuf Mansur itu baik sekali ya. Dia kemarin memberi rezeki buat Ibu Een di Sumedang sebesar 25 juta”

“Alhamdulillah, istri saya sudah memaafkan kekhilafan saya selama ini”.

Menyayangi, memberi rezeki, dan memaafkan; bukankah itu ada dalam sifat-sifat Allah.

Pernahkah kita melihat anak-anak kecil yang bertengkar saat bermain? Ya, memang ada yang menangis. Dan apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Ternyata mereka sudah tenang dan bermain bersama lagi seperti sediakala.

Kita sering tidak bisa ikhlas memaafkan karena diri sudah dipengaruhi hawa nafsu yang sudah begitu kuatnya membelenggu diri. Selain itu pengaruh-pengaruh dari orang-orang di lingkungan sekitar kita yang begitu besar sehingga membuat kita cenderung menyetujui dan meng”iya”kan dengan sikap dan perilaku tidak mau memaafkan.

Ya…kita memang perlu belajar dari sifat-sifat Allah dan tidak ada salahnya belajar dari anak-anak kita. Dan belajar itu tidak selalu dari buku, hal-hal yang kita temui di sekitar kitapun bisa menjadi khasanah untuk memperkaya ilmu kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s